![]() |
| Ilustrasi Cara Penularan Penyakit Menular Seksual (Sumber: GenitalCare) |
GenitalCare - Penyakit menular seksual (PMS) merupakan kelompok penyakit yang dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh dari individu yang terinfeksi.
Jadi, penyakit ini dapat ditularkan melalui berbagai cara, termasuk hubungan seksual tanpa pengaman, kontak dengan luka atau lendir yang terinfeksi, atau melalui transfusi darah yang terkontaminasi.
Penting untuk memahami bahwa beberapa PMS, seperti HIV, sifilis, gonore, dan klamidia, dapat menyebar melalui hubungan seksual vaginal, anal, atau oral.
Oleh karena itu, upaya pencegahan sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Nah, berikut kita akan membahas 8 cara penularan PMS di bawah ini.
1. Hubungan Seksual Tanpa Pengaman
Hubungan seksual tanpa pengaman adalah praktik seksual di mana pasangan tidak menggunakan alat kontrasepsi atau pengaman, seperti kondom.
Praktik ini meningkatkan risiko penularan penyakit menular seksual (PMS), seperti HIV, sifilis, gonore, dan klamidia, serta dapat menyebabkan kehamilan tidak diinginkan.
Jadi, sangat penting untuk mempertimbangkan kesehatan seksual masing-masing, misalnya dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, dan mencari alternatif kontrasepsi jika tidak ingin hamil.
2. Kontak Langsung dengan Luka atau Lendir yang Terinfeksi
Jika terkena kontak langsung dengan luka atau lendir yang terinfeksi, ini juga dapat menularkan PMS.
Dalam situasi ini, penularan PMS dapat terjadi ketika seseorang memiliki kontak fisik langsung dengan area yang terinfeksi pada tubuh individu yang sudah terinfeksi.
Misalnya, penyakit seperti herpes genitalis atau sifilis dapat menyebar melalui sentuhan dengan luka atau lecet yang terdapat di daerah genital atau oral.
Risiko penularan dapat meningkat jika tidak ada penggunaan pengaman, seperti penggunaan kondom, yang dapat membantu mencegah kontak langsung dengan cairan tubuh yang berpotensi mengandung agen penyebab PMS.
3. Pemakaian Alat-alat Seks Bersama
Lalu, dengan menggunakan alat-alat seks bersama, ini juga merupakan praktik yang dapat meningkatkan risiko penularan penyakit menular seksual (PMS).
Saat berbagi alat-alat seks, seperti dildo atau vibrator, tanpa membersihkannya dengan baik, seseorang dapat terpapar cairan tubuh yang mungkin mengandung bakteri penyebab PMS.
Jadi, hal ini dapat menyebabkan penularan penyakit seperti HIV, sifilis, gonore, atau klamidia.
4. Transfusi Darah yang Terkontaminasi
Transfusi darah yang terkontaminasi dapat menjadi sumber penularan penyakit menular seksual (PMS) dan penyakit menular darah lainnya.
Meskipun penyedia layanan darah melakukan pemeriksaan dan skrining yang cermat, tetapi risiko tidak dapat sepenuhnya dihilangkan.
Beberapa PMS, seperti HIV dan hepatitis B dan C, dapat ditularkan melalui darah yang terinfeksi.
Oleh karena itu, penerima transfusi darah harus mempercayai sistem skrining dan pemurnian darah serta melibatkan pihak medis dalam menilai risiko dan kebutuhan transfusi.
5. Dari Ibu ke Bayi Selama Persalinan atau Menyusui
Selanjutnya, penularan penyakit menular seksual dari ibu ke bayi ini dapat terjadi selama persalinan atau menyusui.
Beberapa PMS, seperti HIV, sifilis, dan herpes genitalis, dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama proses kelahiran atau melalui pemberian asi.
Selama persalinan, kontak langsung dengan cairan tubuh yang terinfeksi, seperti darah atau cairan vagina, dapat menyebabkan penularan PMS kepada bayi.
Untuk mencegah penularan ini, penting bagi ibu hamil untuk mendapatkan perawatan prenatal yang baik, termasuk pemeriksaan kesehatan dan skrining PMS.
6. Kontak dengan Cairan Tubuh Lainnya
Kontak dengan cairan tubuh lainnya juga merupakan salah satu cara penularan penyakit menular seksual.
Penyakit seperti HIV, sifilis, gonore, dan klamidia dapat ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi, seperti darah, air mani, cairan vagina, atau cairan anus.
Hubungan seksual tanpa pengaman merupakan situasi di mana risiko penularan ini meningkat, terutama jika pasangan memiliki beberapa pasangan seksual.
Penggunaan kondom atau pengaman lainnya selama aktivitas seksual dapat secara signifikan mengurangi risiko penularan PMS melalui kontak cairan tubuh.
7. Tindakan Seksual yang Berisiko Tinggi
Tindakan seksual yang berisiko tinggi mencakup praktik-praktik yang meningkatkan kemungkinan penularan penyakit menular seksual (PMS).
Hal ini termasuk memiliki banyak pasangan seksual tanpa penggunaan kondom, atau terlibat dalam praktik seksual yang melibatkan kontak langsung dengan cairan tubuh.
Risiko ini diperparah jika pasangan seksual tidak diuji secara teratur atau jika tidak ada komunikasi terbuka mengenai kesehatan seksual.
Edukasi seksual yang baik, penggunaan pengaman seperti kondom, dan pengurangan perilaku seksual berisiko tinggi merupakan langkah-langkah penting untuk mencegah penularan PMS dan memelihara kesehatan seksual secara menyeluruh.
8. Tattoo atau Tindikan dengan Alat yang Tidak Steril
Tattoo atau tindikan dengan alat yang tidak steril dapat meningkatkan risiko penularan penyakit menular, terutama hepatitis B atau C.
Praktik ini melibatkan penetrasi kulit dengan jarum atau alat lainnya, dan jika peralatan tidak disterilkan dengan baik, dapat menyebabkan penularan infeksi dari satu individu ke individu lainnya.
Baca Juga: Jenis dan Macam Penyakit Kelamin yang Berbahaya
Jadi, itulah 8 cara penularan penyakit menular seksual yang patut Anda waspadai. Jika sudah terlanjur terinfeksi, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan dokter, ya!

Komentar
Posting Komentar